HUBUNGAN KONSUMSI FAST FOOD DENGAN STATUS GIZI SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN

Iza Ayu Saufani

Sari


Obesitas merupakan salah satu masalah dunia dengan prevalensi lebih dari 340 juta orang yang terus meningkat tiap tahunnya, terutama pada anak-anak hingga remaja berusia 5-19 tahun. Obesitas yang terjadi pada anak remaja disebabkan karena perubahan gaya hidup yaitu salah satunya sikap siswa Akuntansi tersebut dalam mengkonsumsi makanan, seperti makanan cepat saji (fast food). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan konsumsi fast food terhadap status gizi pada siswa Akuntansi di SMKN 2 Bukittinggi. Jenis penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif dengan rancangan “cross sectional”. Populasi dalam penelitian ini responden kelas X dan XII jurusan Akuntansi. Sampel yang memenuhi kriteria diperoleh sebanyak 150 orang responden. Pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling. Sebaran responden dari hasil penelitian ini sebanyak 16,7% laki-laki dan 83,3% perempuan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa mayoritas responden mengkonsumsi fast food yaitu sebanyak 81 orang (54%). Dimana 33 orang (40,7%) dan 39 orang (48,1%) masing-masingnya memiliki status gizi kurang dan normal, sedangkan 9 orang (11,1%) memiliki status gizi lebih. Dilihat dari perhitungan Food Recall diperoleh bahwa konsumsi harian responden laki-laki sebesar 704,11 kkal dan perempuan 887,56 kkal. Hal tersebut masih di bawah angka kecukupan gizi harian. Berdasarkan uji Chi Square diperoleh nilai p=0,233 (lebih besar dari p=0,05) sehingga tidak adanya hubungan konsumsi fast food dengan status gizi pada siswa Akuntansi di Sekolah Menengah Negeri 2 Bukittinggi. Saran dari penelitian ini diharapkan untuk siswa Akuntansi di SMKN 2 Bukittinggi lebih memperhatikan pola makan yang sehat dan seimbang agar dapat mencegah terjadinya gizi lebih atau dikenal dengan obesitas.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Ananda, Y. (2018). Hubungan Pola Makan dan Aktifitas Fisik dengan Kejadian Obesitas di SMP Negeri 30 Padang Tahun 2018. Jurnal. Prodi Kesehatan Masyarakat. 1, (1).

Armadani, D., & Prihanto B. J. (2017). Hubungan antara Konsumsi Fast Food, Aktivitas Fisik, dan Status Gizi (Secara Genetik) dengan Gizi Lebih (Studi pada Siswa Kelas VII, VIII, dan IX di Mts. Budi Dharma, Wonokromo, Surabaya). Jurnal Pendidikan Olahraga dan Kesehatan, 05, 766-773.

Gibney, M.J., Hartono, A., & Widyastuti, P. (2008). Gizi Kesehatan Masyarakat. Jakarta: EGC.

Istiany, A., & Rusilanti. (2013). Gizi Terapan (ed.1). Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Kementerian Dinas Kesehatan. (2017). Surveilans Gizi. Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan (PPSDMKes) Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Standar Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta: Direktorat.

Khomsan, A. (2003). Pangan dan Gizi untuk Kesehatan (ed.1). Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Paath, F., Rumdasih, Y., & Heryati. (2004). Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: EGC.

Rachmat, M. (2016). Metodologi Penelitian Gizi & Kesehatan. Jakarta: EGC.

Setyawati, V., & Rimawati, E. (2017). Pola Konsumsi Fast Food dan Serat sebagai Faktor Gizi Lebih pada Remaja. Unes Journal of Public Health,6, 6-10.




Google Scholar